Mengatasi Anak Bandel

Anak adalah titipan dari Tuhan untuk kita, dan sebagaimana kita harus merawatnya dengan baik. Ketika dia  lahir, bagaikan selembar kertas kosong, putih bersih. Kita dan lingkunganlah yang memberikan warna pada hidupnya, dan menjadikan dia seperti sekarang. Jika kita didik dengan baik, maka anak akan baik. Jika kita didik kurang baik, maka anak akan kurang baik juga. Seperti kata pepatah, buah tak jatuh jauh dari pohonnya.

Tapi bagaimana jika semua sudah terlanjur? Anak sudah tidak mau menuruti perintah orang tua? Membangkang, dan sebagainya? Satu hal yang perlu dipahami. Jangan pernah melimpahkan semua kesalahan pada anak. Hal inilah yang tidak banyak diketahui para orang tua

Berkenalan dengan anak

Dunia anak adalah dunia bermain. Tapi terkadang sebagai orang tua kita tidak mengerti perasaan mereka. Jangan lupa, sebelum kita menjadi orang tua, kita juga seorang anak. Jika masa kecil kita kurang baik, bukan berarti kita membuat masa kecil anak kita sama seperti kita. Terkadang obsesi yang berlebihan dapat menyebabkan orang tua memaksakan kehendak kepada anaknya tanpa memperhitungkan keinginan dan kemampuan anak.
Pada masa kanak-kanak, otak berkembang dengan pesatnya. Pada masa ini mereka belajar dengan cepat. Jika kita memberikan contoh yang tidak baik, maka mereka pun akan mencontohnya. Dan perbuatan yang tidak baik, lebih mudah ditiru daripada perbuatan baik. Jadi berhati-hatilah pada semua ucapan dan tindakan kita. Karena pengaruh terbesar terhadap diri anak adalah dari keluarga. Terutama dari orang tua. Sisanya adalah factor lingkungan.
Jika sebagai orang tua kita sudah membekali anak kita dengan prinsip-prinsip hidup yang baik, mental yang baik. Maka buruknya pengaruh luar tidak akan menjadikan mereka kehilangan arah.

SEBAB-SEBAB ANAK BANDEL

FAKTOR INTERNAL

1.BROKEN HOME
Hal inilah yang paling banyak menyebabkan anak menjadi bandel. Bahkan, mereka terkadang sengaja untuk menjadi bandel. Hal ini mereka lakukan tak lain hanya untuk mencari perhatian semata. Biasanya yang mereka lakukan adalah membangkang perintah orang tua, berkelahi, adu mulut, menjadi biang onar, membolos sekolah, mencuri, yang paling parah mereka mencari pelarian lain seperti narkoba dan pergaulan bebas.
Bagaimana kita sebagai orang tua mengetahui bahwa anak terkena dampak dari broken home? Mudah saja. Jika kita sendiri sebagai orang tua sudah tidak nyaman dengan kondisi keluarga/pasangan kita. Maka bisa dikatakan keluarga kita sedang menuju kearah broken home. Logikanya, jika kita sendiri sudah tertekan, bagaimana dengan anak kita?
Dan sebagian besar masalah utama dari broken home adalah dikarenakan pasangan orang tua yang sudah tidak ada kecocokan, yang merasa tertekan dengan pasangannya, himpitan ekonomi keluarga, perselingkuhan, dsb. Dengan egoisnya mereka membiarkan anak mereka terkena dampak dari hal ini.

2.ORANG TUA YANG SELALU BERTENGKAR

3.STANDAR YANG TERLALU TINGGI

Standar tinggi sangat dibolehkan, karena membuat kita lebih terpacu dan focus pada apa yang kita inginkan. Tapi anak kita tidaklah 100% sama dengan kita. Mudah untuk kita, belum tentu untuk mereka. Walaupun untuk hal yang satu ini tujuannya sangat baik, agar anak kelak bisa sukses, tapi seringkali caranya salah. Kebanyakan akhirnya berkembang kearah pemaksaan, sehingga menyebabkan anak stress.

4.Tidak ada waktu untuk anak

5.Berkata dan bersikap kasar baik pada pasangannya,   anak, keluarga, dan orang lain

6.Berbohong/Ingkar janji terus menerus
7.Pilih kasih/mengadu domba
8.Kehadiran orang tua tiri yang kurang bijak
9.Perilaku buruk orang tua yang sangat cepat ditiru anak
10.Menyakiti secara Verbal, mental maupun fisik
11.Minimnya pembekalan agama
12.Miss communication
13.Himpitan ekonomi
14.Tidak mengawasi kegiatan/pertemanan anak
15.Ketidakdewasaan/Labil
16.Biang Onar/Tukang berantem
17.Otoriter tidak karuan
18.Terlalu memanjakan
19.Sering berbohong
20.Kebencian
21.DLL

FAKTOR EKSTERNAL
1.Salah pergaulan
2.Tekhnologi
3.Lingkungan yang tidak sehat
4.Dll

Cara Mengatasi :

1. buka hubungan komunikasi. Kunci dari hubungan yang sehat dan bahagia antara orang tua dan anak remajanya adalah komunikasi. Baik dengan ayah maupun ibu. Dan tanda dari hubungan yang harmonis adalah apabila anak mau berbagi atau melaporkan permasalahan yang dihadapinya di luar rumah pada orang tuanya.

2. dengarkan. Orang tua terbiasa memberi pendapat atau memberi perintah. Coba sesekali menjadi pendengar. Dengarkan apa yang dinginkan anak dan setelah itu beri respons yang semestinya. Keras kepala anak akan berkurang apabila dia merasa didengar. Namun, pada saat yang sama, orang tua harus membatasi perdebatan. Jangan biarkan anak berbicara terlalu lama dan mendominasi. Dengarkan secukupnya dan ambil keputusan. Anak harus tahu bahwa orang tualah yang berkuasa dan punya otoritas tertinggi di rumah.

3. selektif berdasarkan skala prioritas. Kalau anak melakukan banyak pelanggaran dari aturan yang telah dibuat, maka prioritaskan menangani pelanggaran besar yang harus ditangani lebih dulu. Biarkan pelanggaran kecil dilakukan anak, setidaknya untuk sementara. Pelanggaran besar dapat bersifat universal atau hanya internal dalam keluarga. Tindakan kriminal adalah salah satu contoh pelanggaran besar yang bersifat universal. Utamakan mengatasi hal ini lebih dulu, dibandingkan pelanggaran besar yang bersifat internal.

4. beri kesibukan positif. Ikutkan pelatihan atau kursus keterampilan yang sesuai dengan bakatnya. Jangan biarkan anak bersantai dengan lingkungan yang kurang kondusif. Kelima, berdoa kepada Allah setiap selesai solat lima waktu. Apabila mungkin lakukan solat berjamaah di rumah setiap hari minimal sekali. Dan ajak anak untuk solat tahajjud setiap malam. Bagi seorang muslim, usaha yang maksimal adalah usaha nyata yang diikuti dengan doa kepada yang Maha Kuasa

sumber: wardhahdetik.blogspot.com

Dalam kategori: Informasi Seputar AnakTips Anak

RSSComments (0)

Trackback URL

Leave a Reply




If you want a picture to show with your comment, go get a Gravatar.